Berawal dari postingan
Bung Fiersa di instagram pada tanggal 12 Desember –iya aku inget karena
siangnya abis ikutan harbolnas di gramedia.com –yaitu Suar Bersua: Perjalanan 5
kota buku Catatan Juang, buku terbaru dari Fiersa Besari. Betapa bahagianya aku
ketika kota tempat tinggalku; Tasikmalaya termasuk salah satunya. Dan berada di
kota pertama yang disambangi Fiersa Besari bersama Mediakita.
Entah mungkin
konspirasi, salah satu buku yang aku pesan saat harbolnas adalah buku Garis
Waktu yang merupakan buku pertama dari Fiersa Besari, satu-satunya buku Bung
yang belum aku miliki dari tiga buku yang telah ditulisnya. Aku udah seneng tuh
nanti pas acaranya aku bakalan sodorin tiga buku, lengkap. Eh dasar hidup, dimana
beberapa rencana hanya akan tetap menjadi rencana. Bukunya belum nyampe dong,
malah tanggal 22 tuh baru dikirim. Ya emang sih admin gramedia juga bilang
pengirimannya bertahap dari tanggal 12-22 Desember. Aku kira pesananku gak akan
masuk ke pengiriman terakhir eh yang aku takutkan terjadi. Jadilah aku datang
dengan membawa buku Konspirasi Alam Semesta sama Catatan Juang.
Aku pergi pukul 14.30,
dianterin ayah. Awalnya aku mau pergi sama temen cuma karena satu dan lain hal
dia gak bisa. Oke sendiri pun tak apa. Dan begitu sampai di lantai 2, aku gak nyangka
ternyata udah penuh. Salah banget berangkat jam segitu meskipun dari rumah ke
Gramedia Mayasari Plaza tuh gak jauh-jauh amat. Aku kurang memperhitungkan
bahwa pembaca dan penikmat karya Bung Fiersa itu gak sedikit, mereka datang
lebih dulu dari aku.
Begitu sampai, aku
registrasi dulu terus nyari tempat duduk dan sudah dipastikan aku dapat yang di
belakang. Kesel banget aku tuh. Sumpah ya pengennya di depan, paling depan
kalau bisa. Cuma ya konsekuensi dateng mepet waktu jadinya
begitu. Tapi dari tempat dudukku keliatan lah bung Fiersa –nya.
begitu. Tapi dari tempat dudukku keliatan lah bung Fiersa –nya.
Acara dimulai pukul
15.00 lebih dikit, Bung Fiersa dateng diiringi jeritan para kawan mengagumkan.
Aku ikutan jejeritan? Enggak. Aku tuh duduk di belakang, bergabung dengan yang
gak terlalu antusias gitu beda kalau orang-orang yang duduk di depan. Mau
teriak-teriak juga malu cuma sendiri kalau bareng temen sih ayo. Hehee
Agak mengherankan
begitu Bung Fiersa duduk langsung ke sesi tanya jawab, bukan ngobrol-ngobrol
dulu atau bacain nukilan Catatan Juang. Nah disini aku kesel lagi nih, aku
udah nyiapin pertanyaan dari jauh-jauh hari untuk diajukan saat acara, begitu
waktunya tiba aku yang udah angkat tangan tinggi-tinggi gak dipilih sama MC
nya. Malah orang di samping aku yang dipilih mana dia dapet gift lagi karena pertanyaannya bagus
katanya. Hih kesel deh.
Maka dari itu, aku mau
tulis pertanyaannya disini aja. Nanti aku mention
Bung Fiersa siapa tau mau jawab meski gak ngarep-ngarep banget sih. Tapi
setidaknya dicoba dulu kan. Oke, pertanyaannya:
·
Apa yang memotivasi Bung Fiersa untuk
konsisten menulis dan menyelesaikan naskah? Dan bagaimana mengalahkan rasa
malas atau ketika dilanda stuck?
·
Karakter tulisan. Apakah dengan membaca
karya-karya orang lain lama kelamaan karakter tulisan seseorang bisa berubah
mengikuti apa yang dia baca?
·
Buku terkeren apa yang pernah Bung
Fiersa baca? Dan kenapa? Siapa tau bisa jadi rekomendasi juga.
·
Buku ‘Catatan Juang’ apa memang sudah
direncanakan bahkan sebelum ‘Konspirasi Alam Semesta’ terbit? Soalnya Ana
ngasih buku bersampul merah tuh ke Juang di buku Kolase dan ternyata ada
kisahnya sendiri. Sengaja kah itu?
Pertanyaan di atas
rencananya gak akan aku ajukan semuanya juga, cuma satu aja. Tapi sayang banget
aku gak kepilih, hikss.
Ada sedikit jawaban
dari Bung yang aku ingat. Dia bilang gini,
“Passion itu sesuatu
yang senang kita lakukan. Passion adalah sesuatu yang ketika kita tidak
melakukannya kita akan merasa diri kita ada yang mati. Jadi saya menulis itu
bukan karena ingin diterbitkan, ingin punya buku, enggak. Tapi karena kalau
saya berhenti menulis ada yang mati dalam diri saya. Dan itu tidak bisa sebelum
atau sesudah menulis itu apa, karena
hobi-hobi yang sesungguhnya kayak main musik, atau mendaki gunung masih saya
lakukan disamping menulis. Tapi menulis itu masuknya passion, sesuatu yang
kalau tidak saya lakukan saya bisa merasa, duh sakit euy ”
Kurang lebih seperti
itu, jawaban dari pertanyaan. “Sebelum menyukai menulis, hobi yang disukai
apa,” kalau gak salah gitu deh pertanyaannya. Pertanyaan dari orang yang aku
lupa siapa namanya. Dan karena pertanyaan itu dia dapet gift.
Satu lagi pertanyaan
yang dapet gift, pertanyaan dari
orang yang duduk di samping aku itu tuh,
“Kenapa Bung memutuskan
untuk keliling Indonesia untuk mencari jati diri, kenapa tidak melakukan hal
yang lain. Dan apa yang bisa Bung dapat dari pengembara tersebut?”
Bung Fiersa jawab,
“Sebelumnya ada yang
harus kita revisi ya, bukan keliling karena Indonesia tidak bulat. Saya dikasih
tau temen saya yang betul itu menyusuri Indonesia. Menurut saya, setiap orang
punya cara yang berbeda-beda untuk menemukan jati dirinya dan cara yang saya
pilih waktu itu menyusuri. Setelah saya menyusuri Indonesia malah yang saya
dapatkan adalah ternyata jati diri itu tidak dicari tapi diciptakan. Dan
manfaatnya adalah ini, saya terkenal. Gak terlalu diplomatis ya jawabannya. Salah
satu manfaatnya ini, bukan terkenalnya tapi bertemu dengan orang-orang baru.
Meskipun masa-masa menyusuri Indonesia selesai tapi kan sekarang saya bisa
menyusuri Indonesia lagi dengan cara yang baru. Dan yang selalu saya syukuri
adalah saya bisa bertemu dengan orang-orang baru, berbagi pemikiran dan bertemu
wajah-wajah baru. Juga yang pasti membentuk pemikiran baru dari diri saya.”
Dan pertanyaan-pertanyaan
selanjutnya masih seputar menulis, bermusik dan berbagi hal yang berhubungan
dengan Bung Fiersa. Hanya empat orang yang dikasih kesempatan, sungguh sedikit
sekali.
Setelah sesi tanya
jawab, MC juga mengajukan dua pertanyaan. Abis itu Bung membacakan salah satu
catatan Juang yang berjudul “Teruntuk: Ibu (Dimana Segalanya Berawal)” karena
memang bertepatan dengan hari ibu. Makanya Bung pilih catatan yang itu. Satu
jam yang terasa sangat singkat, bincang-bincang itu berakhir. Satu jam sisanya
digunakan untuk booksigning dan sesi
foto.
Aku sebagai orang
Indonesia yang membudayakan mengantri, ikut sabar menunggu di barisan.
![]() |
| Antriannya bergerak maju.. |
![]() |
| Dan semakin dekat dengan Bung Fiersa... |
Kira-kira 30 menitan
akhirnya giliran aku untuk bertatapan langsung dengan Bung Fiersa. Aku dateng
ke mejanya dengan dua buku, satu block note hasil pre-order dan CD Kolase (Konspirasi Alam Semesta). Handphone aku
kasih ke mas petugas karena gak dibolehin selfie.
Oke, gak masalah buat aku. Yang menjadi masalah adalah difotonya cuma satu
kali, gak boleh diulang. Padahal kan biar ada pilihan yang mana yang akan diposting hehehe..
Aku sodorin apa-apa
saja yang aku bawa, Bung nandatanganin dulu buku Kolase yang emang belum ada
tanda tangannya. Di saat tanda tangan itu aku bilang,
“Bung yang Catatan
Juang udah ada tanda tangannya, boleh minta ditulisin kata-kata gak?” dia buka
buku Catatan Juang punyaku, di bawah tanda tangan yang aku dapet pas pre-order dia tulis ‘Untuk Annisa’
padahal aku gak sebutin nama lho, iyalah dia tau orang semua bukuku di atasnya
di kasih tanggal dapetinnya, tanda tangan aku sendiri sama nama. (aku gak tau
sih motifnya apa nulis kayak gitu, cuma udah kebiasaan aja)
Aku udah was-was tuh
Bung Fiersa bakalan nulis ‘ditulisin kata-kata’ makanya aku langsung bilang,
“Tulisannya semangat menyelesaikan naskah bung”
Aku bilang kayak gitu
soalnya pernah baca di salah satu postingan pembaca yang dateng ke Meet&Great –nya Raditya Dika dia
minta ditulisin kata-kata dengan bilang ‘tulis apa kek gitu bang’ dan Bang
Radit nulis sesuai yang diucapkan pembacanya itu. Kan aku gak mau kayak gitu.
Ya iya sih Bung Fiersa beda sama Bang Radit cuma ya tetep aja aku takut.
Dan Bung Fiersa tulis
apa yang aku minta lho, agak sedikit beda sih, dia tulis “Semangat Berkarya”
Gila! Aku. Seneng. Banget..
Udah itu, aku inget CD Kolase
belum di tanda tanganin tuh, aku ngomong lagi, “Bung CD nya enggak di tanda
tangan?”
“Banyak amat,” waduuh
dia prontes hahaa, ya mumpung sekalian ketemu gitu maksudnya, “Nanti luntur
tuh.” Dia ambil CD nya terus nyobain dicoret pake spidol dan dihapus pake
tangan, iya bener, luntur coretannya. Tapi tau gak yang menyebalkannya apa, ada
pembaca yang CD nya di tanda tangan, huhh. Giliran aku aja enggak, kebanyakan
kali yak. Huhuu
Abis tanda tangan, dia
bilang gini “Oh lagi proses ya? Udah dikirim ke penerbit?”
“Belum, masih ditulis.”
Aku jawab sambil geleng kepala tuh, hadep-hadepan banget itu. Ya ampun, aku
cuma fokusin ke Bung Fiersa seakan lagi ngobrol berdua aja gak ada siapa-siapa
di sana hehe
“Coba dong ke
mediakita,” dia nunjuk halaman belakang buku yang ada tulisan mediakita nya
terus nunjuk lelaki berkaos hijau lumut yang duduk agak jauh dari meja. “Tuh
sama dia tuh.”
Aku cuma
ngangguk-ngangguk aja. Aminkan saja lah yaa.
Abis cuap-cuap, aku
foto sama Bung Fiersa. Aku salaman sama dia, ya ampun hadep-hadepan gitu. Aku
berasa gak mau lepasin tangannya. Ya ampun itu tangan yang menciptakan kisah
Juang dan Ana, yang menciptakan kisan Suar dan awal dimana catatan-catatan
Juang yang sangat menginspirasi itu hadir.
Sebelum meninggalkan
meja, aku sempet bilang bahwa aku udah siapkan pertanyaan tapi gak dipilih
sebagai penanya. Cuma karena waktunya terbatas aku gak selesai ngomongnya dan
dia kayaknya juga gak nangkep apa yang aku bicarakan. Sedih akutu.
Dan satu lagi aku lupa
bilang gini, “Bung buku merah ini aku anggap dari Ana ya, siapa tau ternyata
pas Ana beli lagi ada promo Buy1 Get1. Satu
buat Juang, satu lagi buat saya hehe” Buku merah yang aku maksud itu adalah
block note yang didapat selain tanda tangan saat pre-order buku ‘Catatan Juang’. Tapi lagi-lagi waktunya gak cukup,
aku udah harus menjauh aja dari mejanya.
Aku melangkah dengan
perasaan riang gembira tak terkira. Sebelumnya aku kecewa karena gak bisa ke
konser Ingkar Janji yang diadakan Bung Fiersa bersama Kerabat Kerja di Bandung
beberapa hari lalu. Alasannya karena aku belum berani ke Bandung sendirian atau
kalau sama temen juga belum tentu di kasih izin dan sepertinya gak akan
kebagian tiket juga. Tapi sepertinya pertemuanku dengan Bung Fiersa terjadi
lewat event lain dan di waktu yang
lain.
Setelah tanda tangan,
aku gak langsung pulang. Aku masih tetap di tempat acara sampai antrian yang
mengular itu habis tak bersisa, sampai yang berfoto ria tinggal para crew gramedia. Aku envy karena mereka bisa selfie
huhuu. Alasan aku menunggu sampai selesai adalah sebagai tebusan karena selama
satu jam aku liat Bung Fiersa dari jauh, makanya aku gak ngelewatin kesempatan
ini buat ngeliat senyumnya dari dekat, duuh. Oh ya sambil curi-curi foto juga
hehee.
Sampai acara selesai,
Bung Fiersa benar-benar membuktikan ucapannya. Dia gak nyanyi di event ini. Dan alasannya sama seperti
yang dia bilang di instagram, biar diundang manggung katanya. Duhh padahal satu
lagu juga gak apa-apa lho, Bung. Akhirnya saat booksigning cuma ditemani lagu-lagu milik Bung Fiersa yang diputar
lewat pengeras suara.
Sebelum pulang aku
jajan dulu *gakpentingbangetdibahas* *tapitetepditulis* di stand minuman. Aku
masih ngeliatin dia dari jauh tuh, dia yang masih sibuk selfie sama orang-orang. Tak beberapa lama kemudian dia sama tim
mediakita juga beberapa panitia acara pergi mendekati aku yang lagi jajan, tapi
dia lewat doang -_- ya iyalah ngarepin apa sih? Hhh. Aku gak ngelepasin
pandangan sampai Bung Fiersa dan yang lainnya naik lift dan menghilang
dibaliknya. Kembali melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya; Jakarta.
Sudah. Pertemuan itu
hanya berlangsung dua jam lebih, penantiannya lebih dari itu. Memecahkan
celengan rindu memang lebih cepat daripada menabung rindu. Dan pertemuan
singkat itu tak akan aku lupakan dalam waktu dekat. Pun sepertinya akan selalu
aku ingat. Apalagi sudah tertulis dalam barisan kata-kata yang menjadikan
pertemuan itu abadi. Semoga di lain kesempatan aku bisa bertemu lagi dengannya,
di acara seperti ini atau konser Bung Fiersa yang selanjutnya. Bahkan mungkin
bisa mendaki bersama, semoga saja.









