Minggu, 13 Januari 2019

Pendidikan Bela Negara Angkatan ke-33 Universitas Siliwangi


    Tabik!
    Kembali lagi, Unsil mengadakan kegiatan tingkat Universitas yaitu    Pendidikan Bela Negara (PBN) yang merupakan kegiatan tahunan yang ditujukan untuk memupuk kecintaan pada Negara. Tahun ini merupakan angkatan ke-33 Unsil mengadakan PBN. Kegiatan yang dibuka pada tanggal 07 Januari 2019 ini diikuti oleh sekitar 2.800 mahasiswa tingkat satu dan beberapa lainnya mahasiswa yang mengulang tahun lalu. Karena PBN ini merupakan kegiatan wajib dan merupakan salah satu syarat agar bisa mengikuti sidang skripsi maka saya pun turut andil dalam kegiatan.  
    Hari pertama adalah upacara pembukaan yang dipimpin oleh Direktur Kemahasiswaan Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan RI Prof. Dr. Ismunandar kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi di ruangan. Peserta tersebut dikelompokkan ke dalam 7 kompi putra dan 7 kompi putri yang masing-masing kompi terdiri dari 6 pleton yang didalamnya terdapat 40 peserta. Para peserta tersebut menyebar ke beberapa ruangan yang telah ditentukan panitia. Saya yang merupakan bagian dari Kompi A masuk ke gedung mandala dan mengikuti pembagian materi dari Prof. Dr. Ismunandar. Pembagian kelompok kali ini terbilang unik atau lebih kepada terlihat sangat simple. Nama disusun berdasarkan abjad dan dikelompokkan dengan jumlah yang sudah ditentukan. Kompi A didominasi oleh mahasiswa yang berinisial A apalagi di pleton* saya nama Annisa ada 27. Jangan salah kalau ada yang manggil nama tersebut akan noleh semuanya. Lol.
    Materi pertama mengenai “Pendidikan Bela Negara untuk Mewujudkan Kader Intelektual Bela Negara.” Dijelaskan bahwa Bela Negara tidak hanya dilakukan oleh alat Negara yang merupakan TNI dan Polri tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Bentuk bela Negara juga bermacam-macam tidak hanya dalam kegiatan militer atau berperang melawan musuh. Wujud bela Negara bisa dilakukan sesuai dengan profesi masing-masing misalnya bagi mahasiswa yaitu berkualitas untuk menghadapi tantangan agar bisa bersaing dengan bangsa lain, toleran dan tanggap terhadap lingkungan. Beliau juga mengatakan bahwa setiap kali revolusi industri akan ada pekerjaan yang digantikan oleh mesin atau robot, kunci untuk bertahan adalah harus tetap kreatif. Dua hari pertama ini kami mendapat pembekalan materi di ruangan.
    Setiap harinya para peserta harus sudah hadir di kampus pukul 05:30 WIB kemudian melakukan senam pagi di lapangan utama. Ada dua senam yaitu senam komando dan senam gemufamire.

Setelah itu istirahat sekitar setengah jam langsung melaksanakan apel pagi barulah kegiatan sesuai agenda kembali dilaksanakan.
Hari ketiga kegiatan full berada di lapangan yaitu latihan PBB atau baris berbaris. Tiap pleton dipimpin oleh satu orang pelatih dari tentara. Latihan seperti sikap sempurna, sikap istirahat, langkah tegap, periksa kerapian, dan sebagainya.
Setiap harinya matahari selalu menyengat kulit jadi lelah terasa bertambah-tambah. Tapi, dengan pengertiannya pelatih selalu memberi jeda untuk sejenak melepas dahaga setelah satu atau dua jam latihan. Di sela istirahat itu biasanya kami sambil meningkatkan semangat lagi dengan meneriakkan yel-yel. Saling sahut-sahutan antar kompi, teriak kenceng, tepuk tangan, juga gerakan-gerakan penyemangat lainnya.
    Dan puncak kegiatan pun tiba di hari keempat yaitu Widya Wisata (Long march/Outbound) ke Situ Gede. Pemberangkatan dimulai pada pukul delapan setelah ada pembekalan materi terlebih dahulu. Karena pemberangkatan diacak, kompi saya baru bisa berangkat di urutan kelima. Dalam perjalanan tidak berbentuk kompi melainkan pleton yang terdiri dari 40 peserta dengan didampingi satu pelatih.
Kompi A Pleton 4
Kami melewati jalur yang sudah diatur panitia. Sepanjang perjalanan itu kami saling berbincang sesama peserta maupun dengan pelatih. Kami bahkan saling melontarkan banyolan, cerita pengalaman dan kadang curhat tentang perjalanan jadi anak kost. Perjalanan terasa lebih menyenangkan. Bohong jika dikatakan perjalanan itu jadi tidak capek, tetep capek tapi waktu jadi terasa lebih singkat karena disertai obrolan. Kita berjalan pelan, bapaknya juga bilang jangan buru-buru.
Beberapa dari kami ada yang tumbang, mereka naik ambulance, bis atau motor yang berkeliling dari tim kesehatan. Tidak apa-apa batasan fisik seseorang kan berbeda-beda. Karena dikatakan long march maka jalan yang dipakai agak dijauhkan, agak muter gitu dan selama perjalanan itu juga beberapa kali kami beristirahat, untuk sekadar minum dan makan cemilan. Kemudian di perjalanan itu juga terdapat beberapa pos yang pada saat disana kita akan mendapatkan materi. Seperti pos pertama tentang navigasi darat. Di dalam hutan GPS kadang tidak bisa berfungsi dengan baik maka dari itu kompas dan peta dibutuhkan untuk menunjang perjalanan agar tidak tersesat.
Di tengah perjalanan menuju pos dua, kami berhadapan dengan permainan yang cukup menantang yaitu berjalan atau merayap di atas satu tali dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Sementara di bawahnya yaitu kolam air berlumpur. Tidak semua dari kami naik, hanya perwakilan saja. Selain yang tali satu, ada juga yang tali dua sehingga kali ini tangan bisa berpegangan pada tali diatas.



Setelah itu, kami lanjut berjalan dan bertemu pos dua di dekat Situ Gede. Pos ini tentang Survival. Bagaimana bertahan hidup di hutan tanpa persediaan yang memadai. Karena Indonesia merupakan wilayah yang subur maka makanan tersedia di sekitar kita bahkan pelatih menemukan talas, daun katuk dan jantung pisang yang semuanya itu bisa membuat kita bertahan di hutan. Nah, pos terakhir yaitu di Situ Gede tentang P3K materi mengenai pertolongan pertama pada korban cedera, diperlihatkan bagaimana membebat luka terbuka dan tertutup.    
Ketika sampai di Situ Gede itu pukul satu, kami istirahat sebentar mungkin karena diburu waktu atau entah kompi kami yang terlalu lambat berjalan kami kembali melanjutkan perjalanan pulang jadi istirahat duduk mungkin hanya setengah jam, disini semakin banyak yang memilih untuk naik bis. Saya sendiri menguatkan tekad untuk berjalan kembali saja. Sambil teringat salah satu jurnal Fiersa Besari yang berjudul Berjalan Perlahan, “Jika sudah mengerjakan sesuatu saya tidak akan pernah berhenti di tengah jalan apalagi menyerah. Alon-alon asal pelakon. Saya yakin jika kita menikmati prosesnya tanpa terburu-buru ada banyak hal yang bisa kita lihat dan kita nikmati selama dalam perjalanan.”
Ya, mari berjalan meski perlahan. Kalimat itu saya ulangi berkali-kali sebagai mantra. Masih dengan terik panas matahari, melewati jalan besar beraspal, kaki udah kebas banget, panas, tak membuat saya dan rekan-rekan menyerah. Beberapa bis melewati pleton kami yang dengan senangnya mereka menaiki kendaraan tersebut. Tapi pelatih bilang “Jangan bangga kalo kayak mereka, kalian yang harusnya bangga masih kuat berjalan.” Suntikan semangat dari pelatih itu juga membuat kami tetap mampu bertahan berjalan.
Kami tiba di kampus kembali pada pukul 02.30 WIB meski berangkat pada urutan kelima entah bagaimana saya merasa menjadi urutan terakhir karena setelah kelompok kami sampai sudah tak ada lagi kelompok yang datang. Kami istirahat hanya sekitar dua puluh menit kemudian lanjut mengikuti apel sore. Jadi setiap harinya itu peserta mengikuti apel dua kali saat pagi dan sore hari. Biasanya apel sore tentang evaluasi mengenai seharian ini dan persiapan untuk esok harinya.
Hari itu ditutup dengan sangat melelahkan. Tapi, saya benar-benar tidak menyangka mampu berjalan sejauh itu. Pelatih bilang kalau perjalanan itu berjarak 11 km. Saya sempat pandangi kaki saya yang menjadi tumpuan ketika berjalan lalu melihat ke dalam diri saya, kamu mampu ternyata. Jujur, saya pesimis dari awal, saya belum pernah berjalan jauh seperti itu meski pelatih bilang “Sebenarnya tuh kalian udah jalan lebih dari ini, coba aja total dari pertama kali bisa jalan.” LOL. Ya, seperti itulah guyonan garing yang mengisi perjalanan.  
Selanjutnya, hari kelima kami mengikuti gladi upacara penutupan, gladi ini sampai lima kali lho saking harus sempurnanya upacara. Setiap kompi dibagi dua kelompok untuk parade yang nantinya akan mengikuti upacara penutupan dan defile yang merupakan demonstrasi menyelaraskan langkah berkelompok dan mereka tidak mengikuti upacara penutupan.
Lantas ketika hari terakhir itu tiba semua bersiap di tempatnya. Saya yang menjadi bagian dari parade tetap berada di lapangan. Upacara kali ini dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. H. Budi Rahmat, Ir.,M.S. Maka dari itu pendidikan bela Negara resmi ditutup.
Sebelum berakhir, ada penyematan peserta terbaik PBN angkatan ke-33 kemudian dilanjut dengan demonstrasi senam komando dan senam gemufamire. Jadi peserta parade membuka barisan dan memenuhi lapangan utama untuk melaksanakan senam. Demonstrasi kedua yaitu dari peleton khusus anggotanya merupakan mahasiswa yang sebelumnya sudah pernah mengikuti paskibra maupun pramuka yang dilatih PBB-AB kembali.

Demonstrasi terakhir yaitu BDM (Bela Diri Militer) yang dilakukan oleh mahasiswa yang memiliki dasar bela diri. Barulah pasukan defile bergabung ke lapangan.

Rangkaian kegiatan PBN berakhir dengan swafoto dengan pleton dan pelatih masing-masing. Sudah banyak pelajaran yang didapatkan terutama tentang kedisiplinan dari para pelatih.



Saya melihat mereka begitu baik juga ramah, tidak garang karena mereka menganggap kami teman, bukan musuh yang mungkin sebelumnya sudah pernah mereka hadapi. Mereka seperti Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik berarti sesuai dengan situasi kondisi dan benar berarti sesuai dengan aturan. Ketika sedang melatih kami, mereka memperlakukan kami selayaknya mahasiswa bukan calon militer. Kami dididik keras tapi sesuai batasan, ketika melakukan kesalahan tak jarang mendapat hukuman tiarap, push up, lari jongkok yang semua itu serta merta untuk kebaikan.
Kegiatan ini akan selalu diingat dan tulisan ini merupakan peremajaan untuk ingatan yang mungkin menua nantinya. Tentang bagaimana panas-panasan di lapangan, saling sahut-sahutan yel-yel, teriak-teriak, sarapan di lapang dan semuanya itu semoga terangkum dengan baik disini.
Pun senang rasanya bisa mengenal para pelatih dari TNI dan Polri semoga setelah ini kami menjadi lebih baik lagi dan mampu membela Negara sesuai dengan bidangnya masing-masing.   

See you soon!!

Selasa, 21 Agustus 2018

Orientasi Mahasiswa Baru Tingkat Fakultas dan Jurusan

Masa Orientasi Mahasiswa Baru di tingkat Universitas telah berakhir namun masa orientasi bagi mahasiswa baru belum sepenuhnya berakhir. Masih ada OMBUS di tingkat Fakultas dan tingkat Jurusan.
    Sebelumnya, saya adalah mahasiswa baru dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Jumlah mahasiswa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini adalah 1.270 mahasiswa yang tersebar dalam 10 jurusan. Yaitu, Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Biologi, Pendidikan Geografi, Pendidikan Fisika, Pendidikan Luar Sekolah, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi, dan Pendidikan Sejarah.
    FKIP sendiri merupakan Fakultas dengan jumlah jurusan terbanyak di Universitas Siliwangi. Yang lainnya paling tidak memiliki dua atau tiga jurusan dalam satu fakultas.
    Pada tanggal 14 Agustus 2018, selepas Sholat Ashar para Mahasiswa baru diserahkan dari Universitas ke Fakultasnya masing-masing. Mahasiswa baru terlebih dari FKIP, dijemput oleh kakak-kakak mahasiswa ke depan gedung baru FKIP. Tak lupa sambil menyerukan jargon, “FKIP bersatu tak bisa dikalahkan! FKIP bersatu tak bisa dikalahkan!!” Itu sore-sore, lagi capek, semangat harus tetap bagus layaknya pagi hari.
    FKIP bersatu, tak bisa dikalahkan bahkan dari musuh terbesar sekalipun, yaitu diri sendiri. Rasa malas atau bosan yang kerapkali menghampiri. Karena ketika sama-sama saling menyemangati, saling mendukung sesama mahasiswa, tak ada yang bisa menghentikan kami dalam meraih cita di Universitas Siliwangi.
    OMBUS di tingkat Fakultas dan tingkat Jurusan berlangsung masing-masing satu hari. OMBUS Fakultas diisi oleh pemberian materi dari Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kemudian ada perkenalan dari organisasi-organisasi, seperti BEM tingkat Fakultas dan BLM tingkat fakultas. Serta, ada penampilan menarik dari Sanggar Seni Katumbiri yang berada dalam naungan divisi minat bakat BEM FKIP.
Terdapat perbedaan dalam OMBUS Fakultas ini, yaitu terdapat Divisi Kedisiplinan. Mereka terdiri dari lima orang dengan wajah datar, dingin, jutek juga tegas. Ya, tak ada salahnya, itu memang tugasnya. Mendisiplinkan mahasiswa baru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dan selama OMBUS Fakultas ini saya tidak berurusan dengan mereka, Alhamdulillah saya anak yang patuh hehee
    Di OMBUS Fakultas ini juga ada Koordinator lapangan, yang mengatur arah lajur mahasiswa yang akan keluar dari gedung Mandala. Jadi, rapi dan enak juga ketika keluar, tak berdesak-desakan.
    Begitu acara selesai, para mahasiswa baru kembali diserahkan kepada jurusannya masing-masing.

Kali ini panitia dari kakak-kakak HMJ Diksatrasia atau Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Sebanyak 114 mahasiswa baru Diksatrasia dikumpulkan di depan ruangan kelas. Sebelum pulang, kami diberi arahan dan persyaratan apa saja yang harus dibawa. Tak ada yang aneh, hanya ada beberapa tambahan yaitu Puisi karya sendiri serta surat cinta juga benci untuk kakak-kakak mahasiswa.
    OMBUS jurusan dimulai pagi-pagi sekali dan diisi kembali dengan materi umum dari dosen kemudian juga ada pengenalan dosen yang mengajar di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Ternyata di jurusan ini para mahasiswa biasa memanggil Bapak/Ibu Dosen dengan panggilan Ayah dan Bunda, nyaris ke semua dosen. Kemudian ada pengenalan HMJ Diksatrasia (Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Dalam HMJ ini terdapat beberapa divisi, salah satunya adalah divisi Minat Bakat yang didalamnya terdapat, Bengkel Sastra, Musikalisasi Puisi,  Teater Blok 3, juga Seni Tari. Satu lagi, ini bukan masuk ke dalam minat bakat namun masih dalam naungan HMJ yaitu RAE (Republik Anak Elang) yang merupakan pengabdian mahasiswa Diksatrasia untuk mengajar anak-anak.
    Masa Orientasi yang hanya berjalan dua hari di Fakultas dan Jurusan memang belum cukup untuk mengenal semua hal tentangnya, tapi paling tidak saya tahu berada di mana, saya tahu ada apa saja di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Seiring berjalannya waktu nanti, pasti bisa mengenal lebih dalam Fakultas dan Jurusan yang telah menerima saya ini.
    Lagi-lagi OMBUS selesai sore hari, mahasiswa baru dikumpulkan kembali di Gedung Mandala untuk penutupan OMBUS tingkat Fakultas. Lantas setelah itu, ada pelepasan tanggung jawab dari divisi kedisiplinan, untuk pertama kalinya kelima kakak mahasiswa itu tersenyum di hadapan mahasiswa baru bahkan kami bernyanyi bersama. Perpisahan yang manis. Tak ada dendam, tak ada kekesalan, semuanya rukun dan damai.
    Di OMBUS Fakultas dan Jurusan ini saya tidak banyak mengambil gambar, atau berfoto bersama kawan-kawan atau kakak-kakak panitia dikarenakan tidak diperbolehkannya memegang gawai ketika kegiatan OMBUS berlangsung. Karena kami pun langsung pulang begitu kegiatan selesai.
    Setelah OMBUS selesai, mahasiswa baru tidak serta merta berhenti berkegiatan. Karena Senin depannya kami langsung ada kuliah perdana oleh Rektor IPB, Bapak Dr. Arif Satria, SP, M.Si dan hari kamisnya ada kuliah umum oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti. Sementara perkuliahan baru efektif mulai tanggal 27 Agustus 2018.
    Sekali lagi, tulisan ini merupakan pengganti dokumentasi gambar yang tidak saya miliki. Pun karena saya sadar, saya tak bisa mengingat banyak hal sementara ingatan-ingatan baru bermunculan. Saya tak ingin melupakan banyak hal, pun tak ingin dilupakan.
    Terima kasih kepada kakak-kakak mahasiswa yang sudah mengulurkan tangannya pada kami adik-adik mahasiswa baru, hingga kami bisa mulai berjuang bersama-sama di kampus perjuangan, menciptakan karya, berprestasi untuk bangsa dan menjadi kebanggaan untuk almamater.
    Hidup mahasiswa!!
   


Kamis, 16 Agustus 2018

Menumbuhkan Kecintaan Terhadap Kampus Lewat Kegiatan OMBUS



Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Siliwangi (OMBUS) adalah kegiatan wajib yang diikuti oleh seluruh mahasiswa baru di awal masa perkuliahan. Sebanyak 2.771 mahasiswa baru yang terjaring lewat jalur SNMPTN, SBMPTN dan Seleksi Mandiri mengikuti kegiatan OMBUS yang dibuka pada tanggal 10 Agustus 2018. Sementara itu, dua hari sebelumnya telah dilaksanakan pelantikan mahasiswa baru dan Gladi OMBUS.  Saya, sebagai bagian dari 2.771 mahasiswa baru tersebut turut andil mengikuti kegiatan OMBUS ini.
Tanggal 07 Agustus 2018, saya sebagai calon mahasiswa yang lolos lewat jalur Seleksi Mandiri melakukan Daftar Ulang di Gedung Mandala Universitas Siliwangi. Kemudian esoknya adalah Gladi Pelantikan Mahasiswa Baru dan Pelantikannya sendiri baru dilaksanakan tanggal 09 Agustus 2018 di Gedung Mandala Universitas Siliwangi. Para peserta OMBUS dibagi menjadi 34 kelompok putra dan putri sesuai jumlah provinsi di Indonesia dan diberi sebuah buku pedoman peserta OMBUS 2018 juga beberapa persyaratan yang harus dibawa saat OMBUS nanti. Tak ada persyaratan yang aneh, seperti makanan dengan nama yang disingkat-singkat, caping dari karton, pom-pom dari tali rapia, ataupun yang lainnya. Beruntung sekali saya ini ya. Perbekalan yang harus dibawa hanya makanan berat, alat sholat juga paling karton warna untuk membuat formasi di lapangan utama Universitas Siliwangi.  
Tanggal 10 Agustus 2018, pembukaan OMBUS digelar. Grand Opening yang sangat meriah dilangsungkan di Gedung Mandala Universitas Siliwangi. Ada sambutan dari Wakil Rektor, Ketua pelaksana OMBUS 2018 yaitu Redo Julianto dan yang paling menarik adalah dari Ketua BEM atau juga Presiden Mahasiswa yaitu Hilma Fanniar Rohman. Orasi oleh Presiden Mahasiswa ini sangatlah berapi-api, lugas, tegas juga lantang. Kalimat-kalimat yang diucapkan penuh dengan semangat yang juga tersalur pada para Mahasiswa Baru hingga Gedung Mandala bergetar oleh teriakan lantang “Hidup Mahasiswa!!” Yang dipimpin oleh Presiden Mahasiswa tersebut. Tak lupa, tangan kiri yang dikepalkan ke atas. Kenapa tangan kiri, karena tangan kanan untuk makan, jawab Presma dengan tawa renyah di akhir kalimatnya. Yang paling membuat saya bergetar adalah ketika bersama-sama melantangkan Sumpah Mahasiswa Indonesia yang lagi-lagi dipimpin oleh Presiden Mahasiwa Universitas Siliwangi. Lantas kemudian acara berlanjut dengan persembahan dari kakak-kakak mahasiswa, sebuah pentas musik dan tari yang memeriahkan suasana. Saya tak henti-hentinya bertepuk tangan untuk pementasan meriah tersebut.  
Maka, kegiatan OMBUS resmi dibuka. Agenda kegiatannya adalah materi-materi untuk bekal mahasiswa baru di perkuliahannya nanti. Yang pertama materi diberikan oleh Bapak Khaerudin S.Ag, M.Ag mengenai 4 Pilar MPR RI. Materi-materi selanjutnya disampaikan oleh Wakil Rektor-1, Wakil Rektor-2, Wakil Rektor-3, Alumni Unsil, dan pemateri lainnya.  
OMBUS berlanjut kembali pada hari senin tanggal 13 Agustus 2018 karena hari sabtu dan minggu diliburkan. Agendanya masih materi-materi bermanfaat dari pemateri hebat. Kemudian dilanjutkan dengan membuat formasi di lapangan utama Universitas Siliwangi lantas berlanjut dengan Flashmob : Bright as the Sun, sebagai bentuk partisipasi bahwa Unsil mendukung penuh Asian Games 2018.  
Selepas flashmob, para peserta tidak langsung pulang melainkan mengerubungi photo booth yang telah disediakan panitia. Para peserta berswafoto bersama rekan-rekan baru juga dengan kakak-kakak LO –nya masing-masing juga kakak-kakak panitia yang berada di sekitaran lapangan utama. Oh, tak ketinggalan juga para peserta yang tak lain mahasiswa baru itu mengerubungi Presiden Mahasiswa, Kak Hilma Fanniar. Kesempatan yang jelas tidak bisa dilewatkan karena Presma Unsil ini kebetulan baik dan murah senyum meskipun garang ketika berorasi.
Saya, sebagai mahasiswa baru yang bangga memiliki Presma seperti dia tentu ingin berswafoto dengannya dong, ya mumpung ada kesempatan gitu. Paling enggak saya punya kenang-kenangan semasa OMBUS di Universitas Siliwangi, takutnya saya lupa wajah Presma Unsil karena maklumlah saya pengingat yang buruk dan perlu sekali mengabadikan moment, entah lewat gambar atau tulisan seperti ini. Namun, saya lupa kalau fans Kak Fanniar ini cukup banyak. Apalagi dari para Permada—sebutan untuk Mahasiswa Baru perempuan. Jadinya, saya tak melihat ada Kak Fanniar di lapangan, entah mungkin udah pergi atau lagi dikerubungin Permada. Yha baiklah, karena saat itu sudah sangat sore saya memutuskan untuk pergi meninggalkan lapangan.
OMBUS di tingkat Universitas telah berakhir pada tanggal 14 Agustus 2018. Namun masa orientasi ini belum selesai. Masih ada OMBUS fakultas yang mulai dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus di fakultasnya masing-masing, mungkin akan ada postingan lainnya nanti. Semoga saja saya dijauhkan dari rasa malas. Nantilah ada di postingan lain hehee
Nah, tanggal 17 Agustus 2018 para mahasiswa baru mengikuti upacara bendera untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-73 di lapangan utama Universitas Siliwangi. Begitu selesai upacara, kegiatan OMBUS di tingkat Universitas resmi ditutup oleh Presiden Mahasiswa. Kemudian lagu Sampai Jumpa milik Endank Soekamti terdengar lewat pengeras suara, para mahasiswa baru beserta panitia OMBUS membentuk lingkaran dan saling merangkul juga bernyanyi bersama. Ini terharu banget sih, bakal kangen sama jargon-jargon OMBUS, teriak-teriak di lapang, makan bareng di lapang, pokoknya saya ngerasa enjoy banget di OMBUS tingkat Universitas ini. Yha kemarin ada pembukaan, pasti nanti juga ketemu sama penutupan. Layaknya awal yang bertemu akhir. Tapi, kegiatannya aja yang berakhir, kebersamaannya tidak.
Lalu pada hari itu juga, Presiden Mahasiswa Universitas Siliwangi menepati janjinya bahwa ia akan mencukur rambut gondrongnya. Benar, di hadapan 2.771 mahasiswa baru kak Fanniar memotong rambutnya setelah tiga tahun memanjangkannya. Daebak!!!
Sebelum bubar, lagi-lagi Kak Fanniar dikerumuni para permada untuk foto bareng. Saya liatin dari jauh, gak mungkin banget bisa foto bareng apalagi saya harus kumpul jurusan. Saya menjauh aja tuh, tapi ternyata kumpul jurusannya gak lama dan para permada yang mengerumuni kak Fanniar udah gak banyak. Ya sudah, saya dan beberapa teman yang juga ingin foto bareng mendekati kak Fanniar dan berhasil berada dalam satu frame yang sama. Dia baik banget sih, makasih lho kak 😊
Presiden Mahasiswa a.k.a Ketua BEM Universitas Siliwangi
Hidup Mahasiswa!!

Nah ini Koordinator Lapangan, Kak Bangkit Semesta Juang. Pengennya sih foto sama panitia lainnya, cuma gak bisaa. Oh, masih inget banget suara kakak ini pas berseru, "Adik-adik yang budiman.." wkwk

Temen-temen baruu dari kelompok 24. Gak semuanya, karena gak tau yang lainnya kemana.

Temen baru dari jurusan yang samaa

Err.. kali-kali swafoto bolehlah yaa wkwk

Dari OMBUS ini, saya sangat salut pada kakak-kakak panitia yang harus datang pagi-pagi sekali sebelum para peserta, yang pulang malam hari karena harus evaluasi dan persiapan untuk hari esok.
Kepada Kakak-kakak LO (Liaison Officer) yang selalu mendampingi adik-adik kelompoknya. Kakak-kakak P3K yang sigap sedia berdiri dengan perlengkapan obat-obatan di setiap sudut, sebagai antisipasi kalau adik-adik mahasiswa ada yang sakit. Kakak-kakak keamanan, koordinator lapangan yang dengan hebatnya mengatur 2.771 adik-adik mahasiswa agar tetap rapi dan kondusif ketika di lapangan atau ketika memasuki Gedung Mandala. Kakak-kakak acara yang dengan cerdasnya mengatur waktu. Kakak-kakak tim dokumentasi yang selalu mengabadikan setiap moment ​ berharga selama kegiatan orientasi mahasiswa baru ini. Juga Kakak-kakak lainnya yang turut andil dalam pelaksanaan OMBUS 2018 ini. Yang berlarian kesana-kemari, mengabaikan lelah, merusak waktu istirahatnya, dan yang paling utama adalah merelakan waktu liburannya untuk pelaksanaan OMBUS 2018 ini. Terima kasih atas kerja keras kakak-kakak panitia, atas segala waktu yang diberikan untuk mendampingi adik-adik mahasiswa baru di lingkungan barunya.
Ospek atau sekarang yang disebut OMBUS di Universitas Siliwangi, tidaklah semenyeramkan atau semenakutkan yang saya perkirakan. Tak ada mahasiswa baru yang tertindas, tak ada kakak mahasiswa yang bertindak semena-mena, tak ada yang garang, tak ada yang mencaci-maki, tak ada kekerasan, tak ada yang suka marah-marah karena hal sepele. Saya, kami, mahasiswa baru disambut sebagai teman, saudara, dengan senyum ramah dan jabatan tangan yang hangat hingga saya merasa nyaman berada di lingkungan baru ini.
Mungkin ini tujuan Orientasi Mahasiswa Baru, bukan hanya sebagai perkenalan terhadap kampus, tapi juga lebih menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan kita terhadap almamater. Saya bangga menjadi mahasiswa Unsil.
Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!!!

Sabtu, 23 Desember 2017

Suar Bersua di Tasikmalaya bersama Fiersa Besari





Berawal dari postingan Bung Fiersa di instagram pada tanggal 12 Desember –iya aku inget karena siangnya abis ikutan harbolnas di gramedia.com –yaitu Suar Bersua: Perjalanan 5 kota buku Catatan Juang, buku terbaru dari Fiersa Besari. Betapa bahagianya aku ketika kota tempat tinggalku; Tasikmalaya termasuk salah satunya. Dan berada di kota pertama yang disambangi Fiersa Besari bersama Mediakita.

Entah mungkin konspirasi, salah satu buku yang aku pesan saat harbolnas adalah buku Garis Waktu yang merupakan buku pertama dari Fiersa Besari, satu-satunya buku Bung yang belum aku miliki dari tiga buku yang telah ditulisnya. Aku udah seneng tuh nanti pas acaranya aku bakalan sodorin tiga buku, lengkap. Eh dasar hidup, dimana beberapa rencana hanya akan tetap menjadi rencana. Bukunya belum nyampe dong, malah tanggal 22 tuh baru dikirim. Ya emang sih admin gramedia juga bilang pengirimannya bertahap dari tanggal 12-22 Desember. Aku kira pesananku gak akan masuk ke pengiriman terakhir eh yang aku takutkan terjadi. Jadilah aku datang dengan membawa buku Konspirasi Alam Semesta sama Catatan Juang.
Aku pergi pukul 14.30, dianterin ayah. Awalnya aku mau pergi sama temen cuma karena satu dan lain hal dia gak bisa. Oke sendiri pun tak apa. Dan begitu sampai di lantai 2, aku gak nyangka ternyata udah penuh. Salah banget berangkat jam segitu meskipun dari rumah ke Gramedia Mayasari Plaza tuh gak jauh-jauh amat. Aku kurang memperhitungkan bahwa pembaca dan penikmat karya Bung Fiersa itu gak sedikit, mereka datang lebih dulu dari aku.
Begitu sampai, aku registrasi dulu terus nyari tempat duduk dan sudah dipastikan aku dapat yang di belakang. Kesel banget aku tuh. Sumpah ya pengennya di depan, paling depan kalau bisa. Cuma ya konsekuensi dateng mepet waktu jadinya 
begitu. Tapi dari tempat dudukku keliatan lah bung Fiersa –nya. 


Acara dimulai pukul 15.00 lebih dikit, Bung Fiersa dateng diiringi jeritan para kawan mengagumkan. Aku ikutan jejeritan? Enggak. Aku tuh duduk di belakang, bergabung dengan yang gak terlalu antusias gitu beda kalau orang-orang yang duduk di depan. Mau teriak-teriak juga malu cuma sendiri kalau bareng temen sih ayo. Hehee
Agak mengherankan begitu Bung Fiersa duduk langsung ke sesi tanya jawab, bukan ngobrol-ngobrol dulu atau bacain nukilan Catatan Juang. Nah disini aku kesel lagi nih, aku udah nyiapin pertanyaan dari jauh-jauh hari untuk diajukan saat acara, begitu waktunya tiba aku yang udah angkat tangan tinggi-tinggi gak dipilih sama MC nya. Malah orang di samping aku yang dipilih mana dia dapet gift lagi karena pertanyaannya bagus katanya. Hih kesel deh.
Maka dari itu, aku mau tulis pertanyaannya disini aja. Nanti aku mention Bung Fiersa siapa tau mau jawab meski gak ngarep-ngarep banget sih. Tapi setidaknya dicoba dulu kan. Oke, pertanyaannya:
·         Apa yang memotivasi Bung Fiersa untuk konsisten menulis dan menyelesaikan naskah? Dan bagaimana mengalahkan rasa malas atau ketika dilanda stuck?
·         Karakter tulisan. Apakah dengan membaca karya-karya orang lain lama kelamaan karakter tulisan seseorang bisa berubah mengikuti apa yang dia baca?
·         Buku terkeren apa yang pernah Bung Fiersa baca? Dan kenapa? Siapa tau bisa jadi rekomendasi juga.
·         Buku ‘Catatan Juang’ apa memang sudah direncanakan bahkan sebelum ‘Konspirasi Alam Semesta’ terbit? Soalnya Ana ngasih buku bersampul merah tuh ke Juang di buku Kolase dan ternyata ada kisahnya sendiri. Sengaja kah itu?
Pertanyaan di atas rencananya gak akan aku ajukan semuanya juga, cuma satu aja. Tapi sayang banget aku gak kepilih, hikss.
Ada sedikit jawaban dari Bung yang aku ingat. Dia bilang gini,
“Passion itu sesuatu yang senang kita lakukan. Passion adalah sesuatu yang ketika kita tidak melakukannya kita akan merasa diri kita ada yang mati. Jadi saya menulis itu bukan karena ingin diterbitkan, ingin punya buku, enggak. Tapi karena kalau saya berhenti menulis ada yang mati dalam diri saya. Dan itu tidak bisa sebelum atau sesudah  menulis itu apa, karena hobi-hobi yang sesungguhnya kayak main musik, atau mendaki gunung masih saya lakukan disamping menulis. Tapi menulis itu masuknya passion, sesuatu yang kalau tidak saya lakukan saya bisa merasa, duh sakit euy
Kurang lebih seperti itu, jawaban dari pertanyaan. “Sebelum menyukai menulis, hobi yang disukai apa,” kalau gak salah gitu deh pertanyaannya. Pertanyaan dari orang yang aku lupa siapa namanya. Dan karena pertanyaan itu dia dapet gift.
Satu lagi pertanyaan yang dapet gift, pertanyaan dari orang yang duduk di samping aku itu tuh,
“Kenapa Bung memutuskan untuk keliling Indonesia untuk mencari jati diri, kenapa tidak melakukan hal yang lain. Dan apa yang bisa Bung dapat dari pengembara tersebut?”
Bung Fiersa jawab,
“Sebelumnya ada yang harus kita revisi ya, bukan keliling karena Indonesia tidak bulat. Saya dikasih tau temen saya yang betul itu menyusuri Indonesia. Menurut saya, setiap orang punya cara yang berbeda-beda untuk menemukan jati dirinya dan cara yang saya pilih waktu itu menyusuri. Setelah saya menyusuri Indonesia malah yang saya dapatkan adalah ternyata jati diri itu tidak dicari tapi diciptakan. Dan manfaatnya adalah ini, saya terkenal. Gak terlalu diplomatis ya jawabannya. Salah satu manfaatnya ini, bukan terkenalnya tapi bertemu dengan orang-orang baru. Meskipun masa-masa menyusuri Indonesia selesai tapi kan sekarang saya bisa menyusuri Indonesia lagi dengan cara yang baru. Dan yang selalu saya syukuri adalah saya bisa bertemu dengan orang-orang baru, berbagi pemikiran dan bertemu wajah-wajah baru. Juga yang pasti membentuk pemikiran baru dari diri saya.”
Dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya masih seputar menulis, bermusik dan berbagi hal yang berhubungan dengan Bung Fiersa. Hanya empat orang yang dikasih kesempatan, sungguh sedikit sekali.
Setelah sesi tanya jawab, MC juga mengajukan dua pertanyaan. Abis itu Bung membacakan salah satu catatan Juang yang berjudul “Teruntuk: Ibu (Dimana Segalanya Berawal)” karena memang bertepatan dengan hari ibu. Makanya Bung pilih catatan yang itu. Satu jam yang terasa sangat singkat, bincang-bincang itu berakhir. Satu jam sisanya digunakan untuk booksigning dan sesi foto.
Aku sebagai orang Indonesia yang membudayakan mengantri, ikut sabar menunggu di barisan.


Masih di belakang..
Antriannya bergerak maju..

Dan semakin dekat dengan Bung Fiersa...

Kira-kira 30 menitan akhirnya giliran aku untuk bertatapan langsung dengan Bung Fiersa. Aku dateng ke mejanya dengan dua buku, satu block note hasil pre-order dan CD Kolase (Konspirasi Alam Semesta). Handphone aku kasih ke mas petugas karena gak dibolehin selfie. Oke, gak masalah buat aku. Yang menjadi masalah adalah difotonya cuma satu kali, gak boleh diulang. Padahal kan biar ada pilihan yang mana yang akan diposting hehehe..
Aku sodorin apa-apa saja yang aku bawa, Bung nandatanganin dulu buku Kolase yang emang belum ada tanda tangannya. Di saat tanda tangan itu aku bilang,
“Bung yang Catatan Juang udah ada tanda tangannya, boleh minta ditulisin kata-kata gak?” dia buka buku Catatan Juang punyaku, di bawah tanda tangan yang aku dapet pas pre-order dia tulis ‘Untuk Annisa’ padahal aku gak sebutin nama lho, iyalah dia tau orang semua bukuku di atasnya di kasih tanggal dapetinnya, tanda tangan aku sendiri sama nama. (aku gak tau sih motifnya apa nulis kayak gitu, cuma udah kebiasaan aja)


Gak tau itu mas-mas nya ngambil foto pas Bung lagi tanda tangan, lah jadi dua kan jadinya..

Aku udah was-was tuh Bung Fiersa bakalan nulis ‘ditulisin kata-kata’ makanya aku langsung bilang, “Tulisannya semangat menyelesaikan naskah bung”
Aku bilang kayak gitu soalnya pernah baca di salah satu postingan pembaca yang dateng ke Meet&Great –nya Raditya Dika dia minta ditulisin kata-kata dengan bilang ‘tulis apa kek gitu bang’ dan Bang Radit nulis sesuai yang diucapkan pembacanya itu. Kan aku gak mau kayak gitu. Ya iya sih Bung Fiersa beda sama Bang Radit cuma ya tetep aja aku takut.
Dan Bung Fiersa tulis apa yang aku minta lho, agak sedikit beda sih, dia tulis “Semangat Berkarya” Gila! Aku. Seneng. Banget..




Udah itu, aku inget CD Kolase belum di tanda tanganin tuh, aku ngomong lagi, “Bung CD nya enggak di tanda tangan?”
“Banyak amat,” waduuh dia prontes hahaa, ya mumpung sekalian ketemu gitu maksudnya, “Nanti luntur tuh.” Dia ambil CD nya terus nyobain dicoret pake spidol dan dihapus pake tangan, iya bener, luntur coretannya. Tapi tau gak yang menyebalkannya apa, ada pembaca yang CD nya di tanda tangan, huhh. Giliran aku aja enggak, kebanyakan kali yak. Huhuu
Abis tanda tangan, dia bilang gini “Oh lagi proses ya? Udah dikirim ke penerbit?”
“Belum, masih ditulis.” Aku jawab sambil geleng kepala tuh, hadep-hadepan banget itu. Ya ampun, aku cuma fokusin ke Bung Fiersa seakan lagi ngobrol berdua aja gak ada siapa-siapa di sana hehe
“Coba dong ke mediakita,” dia nunjuk halaman belakang buku yang ada tulisan mediakita nya terus nunjuk lelaki berkaos hijau lumut yang duduk agak jauh dari meja. “Tuh sama dia tuh.”
Aku cuma ngangguk-ngangguk aja. Aminkan saja lah yaa.
Abis cuap-cuap, aku foto sama Bung Fiersa. Aku salaman sama dia, ya ampun hadep-hadepan gitu. Aku berasa gak mau lepasin tangannya. Ya ampun itu tangan yang menciptakan kisah Juang dan Ana, yang menciptakan kisan Suar dan awal dimana catatan-catatan Juang yang sangat menginspirasi itu hadir.



Sebelum meninggalkan meja, aku sempet bilang bahwa aku udah siapkan pertanyaan tapi gak dipilih sebagai penanya. Cuma karena waktunya terbatas aku gak selesai ngomongnya dan dia kayaknya juga gak nangkep apa yang aku bicarakan. Sedih akutu.
Dan satu lagi aku lupa bilang gini, “Bung buku merah ini aku anggap dari Ana ya, siapa tau ternyata pas Ana beli lagi ada promo Buy1 Get1. Satu buat Juang, satu lagi buat saya hehe” Buku merah yang aku maksud itu adalah block note yang didapat selain tanda tangan saat pre-order buku ‘Catatan Juang’. Tapi lagi-lagi waktunya gak cukup, aku udah harus menjauh aja dari mejanya.
Aku melangkah dengan perasaan riang gembira tak terkira. Sebelumnya aku kecewa karena gak bisa ke konser Ingkar Janji yang diadakan Bung Fiersa bersama Kerabat Kerja di Bandung beberapa hari lalu. Alasannya karena aku belum berani ke Bandung sendirian atau kalau sama temen juga belum tentu di kasih izin dan sepertinya gak akan kebagian tiket juga. Tapi sepertinya pertemuanku dengan Bung Fiersa terjadi lewat event lain dan di waktu yang lain.
Setelah tanda tangan, aku gak langsung pulang. Aku masih tetap di tempat acara sampai antrian yang mengular itu habis tak bersisa, sampai yang berfoto ria tinggal para crew gramedia. Aku envy karena mereka bisa selfie huhuu. Alasan aku menunggu sampai selesai adalah sebagai tebusan karena selama satu jam aku liat Bung Fiersa dari jauh, makanya aku gak ngelewatin kesempatan ini buat ngeliat senyumnya dari dekat, duuh. Oh ya sambil curi-curi foto juga hehee.






Sampai acara selesai, Bung Fiersa benar-benar membuktikan ucapannya. Dia gak nyanyi di event ini. Dan alasannya sama seperti yang dia bilang di instagram, biar diundang manggung katanya. Duhh padahal satu lagu juga gak apa-apa lho, Bung. Akhirnya saat booksigning cuma ditemani lagu-lagu milik Bung Fiersa yang diputar lewat pengeras suara.
Sebelum pulang aku jajan dulu *gakpentingbangetdibahas* *tapitetepditulis* di stand minuman. Aku masih ngeliatin dia dari jauh tuh, dia yang masih sibuk selfie sama orang-orang. Tak beberapa lama kemudian dia sama tim mediakita juga beberapa panitia acara pergi mendekati aku yang lagi jajan, tapi dia lewat doang -_- ya iyalah ngarepin apa sih? Hhh. Aku gak ngelepasin pandangan sampai Bung Fiersa dan yang lainnya naik lift dan menghilang dibaliknya. Kembali melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya; Jakarta.
Sudah. Pertemuan itu hanya berlangsung dua jam lebih, penantiannya lebih dari itu. Memecahkan celengan rindu memang lebih cepat daripada menabung rindu. Dan pertemuan singkat itu tak akan aku lupakan dalam waktu dekat. Pun sepertinya akan selalu aku ingat. Apalagi sudah tertulis dalam barisan kata-kata yang menjadikan pertemuan itu abadi. Semoga di lain kesempatan aku bisa bertemu lagi dengannya, di acara seperti ini atau konser Bung Fiersa yang selanjutnya. Bahkan mungkin bisa mendaki bersama, semoga saja.