Tabik!
Kembali lagi, Unsil mengadakan kegiatan tingkat Universitas yaitu Pendidikan Bela Negara (PBN) yang merupakan kegiatan tahunan yang ditujukan untuk memupuk kecintaan pada Negara. Tahun ini merupakan angkatan ke-33 Unsil mengadakan PBN. Kegiatan yang dibuka pada tanggal 07 Januari 2019 ini diikuti oleh sekitar 2.800 mahasiswa tingkat satu dan beberapa lainnya mahasiswa yang mengulang tahun lalu. Karena PBN ini merupakan kegiatan wajib dan merupakan salah satu syarat agar bisa mengikuti sidang skripsi maka saya pun turut andil dalam kegiatan.
Hari pertama adalah upacara pembukaan yang dipimpin oleh Direktur Kemahasiswaan Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan RI Prof. Dr. Ismunandar kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi di ruangan. Peserta tersebut dikelompokkan ke dalam 7 kompi putra dan 7 kompi putri yang masing-masing kompi terdiri dari 6 pleton yang didalamnya terdapat 40 peserta. Para peserta tersebut menyebar ke beberapa ruangan yang telah ditentukan panitia. Saya yang merupakan bagian dari Kompi A masuk ke gedung mandala dan mengikuti pembagian materi dari Prof. Dr. Ismunandar. Pembagian kelompok kali ini terbilang unik atau lebih kepada terlihat sangat simple. Nama disusun berdasarkan abjad dan dikelompokkan dengan jumlah yang sudah ditentukan. Kompi A didominasi oleh mahasiswa yang berinisial A apalagi di pleton* saya nama Annisa ada 27. Jangan salah kalau ada yang manggil nama tersebut akan noleh semuanya. Lol.
Materi pertama mengenai “Pendidikan Bela Negara untuk Mewujudkan Kader Intelektual Bela Negara.” Dijelaskan bahwa Bela Negara tidak hanya dilakukan oleh alat Negara yang merupakan TNI dan Polri tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Bentuk bela Negara juga bermacam-macam tidak hanya dalam kegiatan militer atau berperang melawan musuh. Wujud bela Negara bisa dilakukan sesuai dengan profesi masing-masing misalnya bagi mahasiswa yaitu berkualitas untuk menghadapi tantangan agar bisa bersaing dengan bangsa lain, toleran dan tanggap terhadap lingkungan. Beliau juga mengatakan bahwa setiap kali revolusi industri akan ada pekerjaan yang digantikan oleh mesin atau robot, kunci untuk bertahan adalah harus tetap kreatif. Dua hari pertama ini kami mendapat pembekalan materi di ruangan.
Setiap harinya para peserta harus sudah hadir di kampus pukul 05:30 WIB kemudian melakukan senam pagi di lapangan utama. Ada dua senam yaitu senam komando dan senam gemufamire.
Setelah itu istirahat sekitar setengah jam langsung melaksanakan apel pagi barulah kegiatan sesuai agenda kembali dilaksanakan.
Hari ketiga kegiatan full berada di lapangan yaitu latihan PBB atau baris berbaris. Tiap pleton dipimpin oleh satu orang pelatih dari tentara. Latihan seperti sikap sempurna, sikap istirahat, langkah tegap, periksa kerapian, dan sebagainya.
Setiap harinya matahari selalu menyengat kulit jadi lelah terasa bertambah-tambah. Tapi, dengan pengertiannya pelatih selalu memberi jeda untuk sejenak melepas dahaga setelah satu atau dua jam latihan. Di sela istirahat itu biasanya kami sambil meningkatkan semangat lagi dengan meneriakkan yel-yel. Saling sahut-sahutan antar kompi, teriak kenceng, tepuk tangan, juga gerakan-gerakan penyemangat lainnya.
Dan puncak kegiatan pun tiba di hari keempat yaitu Widya Wisata (Long march/Outbound) ke Situ Gede. Pemberangkatan dimulai pada pukul delapan setelah ada pembekalan materi terlebih dahulu. Karena pemberangkatan diacak, kompi saya baru bisa berangkat di urutan kelima. Dalam perjalanan tidak berbentuk kompi melainkan pleton yang terdiri dari 40 peserta dengan didampingi satu pelatih.
Kami melewati jalur yang sudah diatur panitia. Sepanjang perjalanan itu kami saling berbincang sesama peserta maupun dengan pelatih. Kami bahkan saling melontarkan banyolan, cerita pengalaman dan kadang curhat tentang perjalanan jadi anak kost. Perjalanan terasa lebih menyenangkan. Bohong jika dikatakan perjalanan itu jadi tidak capek, tetep capek tapi waktu jadi terasa lebih singkat karena disertai obrolan. Kita berjalan pelan, bapaknya juga bilang jangan buru-buru.
Beberapa dari kami ada yang tumbang, mereka naik ambulance, bis atau motor yang berkeliling dari tim kesehatan. Tidak apa-apa batasan fisik seseorang kan berbeda-beda. Karena dikatakan long march maka jalan yang dipakai agak dijauhkan, agak muter gitu dan selama perjalanan itu juga beberapa kali kami beristirahat, untuk sekadar minum dan makan cemilan. Kemudian di perjalanan itu juga terdapat beberapa pos yang pada saat disana kita akan mendapatkan materi. Seperti pos pertama tentang navigasi darat. Di dalam hutan GPS kadang tidak bisa berfungsi dengan baik maka dari itu kompas dan peta dibutuhkan untuk menunjang perjalanan agar tidak tersesat.
Di tengah perjalanan menuju pos dua, kami berhadapan dengan permainan yang cukup menantang yaitu berjalan atau merayap di atas satu tali dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Sementara di bawahnya yaitu kolam air berlumpur. Tidak semua dari kami naik, hanya perwakilan saja. Selain yang tali satu, ada juga yang tali dua sehingga kali ini tangan bisa berpegangan pada tali diatas.
Setelah itu, kami lanjut berjalan dan bertemu pos dua di dekat Situ Gede. Pos ini tentang Survival. Bagaimana bertahan hidup di hutan tanpa persediaan yang memadai. Karena Indonesia merupakan wilayah yang subur maka makanan tersedia di sekitar kita bahkan pelatih menemukan talas, daun katuk dan jantung pisang yang semuanya itu bisa membuat kita bertahan di hutan. Nah, pos terakhir yaitu di Situ Gede tentang P3K materi mengenai pertolongan pertama pada korban cedera, diperlihatkan bagaimana membebat luka terbuka dan tertutup.
Ketika sampai di Situ Gede itu pukul satu, kami istirahat sebentar mungkin karena diburu waktu atau entah kompi kami yang terlalu lambat berjalan kami kembali melanjutkan perjalanan pulang jadi istirahat duduk mungkin hanya setengah jam, disini semakin banyak yang memilih untuk naik bis. Saya sendiri menguatkan tekad untuk berjalan kembali saja. Sambil teringat salah satu jurnal Fiersa Besari yang berjudul Berjalan Perlahan, “Jika sudah mengerjakan sesuatu saya tidak akan pernah berhenti di tengah jalan apalagi menyerah. Alon-alon asal pelakon. Saya yakin jika kita menikmati prosesnya tanpa terburu-buru ada banyak hal yang bisa kita lihat dan kita nikmati selama dalam perjalanan.”
Ya, mari berjalan meski perlahan. Kalimat itu saya ulangi berkali-kali sebagai mantra. Masih dengan terik panas matahari, melewati jalan besar beraspal, kaki udah kebas banget, panas, tak membuat saya dan rekan-rekan menyerah. Beberapa bis melewati pleton kami yang dengan senangnya mereka menaiki kendaraan tersebut. Tapi pelatih bilang “Jangan bangga kalo kayak mereka, kalian yang harusnya bangga masih kuat berjalan.” Suntikan semangat dari pelatih itu juga membuat kami tetap mampu bertahan berjalan.
Kami tiba di kampus kembali pada pukul 02.30 WIB meski berangkat pada urutan kelima entah bagaimana saya merasa menjadi urutan terakhir karena setelah kelompok kami sampai sudah tak ada lagi kelompok yang datang. Kami istirahat hanya sekitar dua puluh menit kemudian lanjut mengikuti apel sore. Jadi setiap harinya itu peserta mengikuti apel dua kali saat pagi dan sore hari. Biasanya apel sore tentang evaluasi mengenai seharian ini dan persiapan untuk esok harinya.
Hari itu ditutup dengan sangat melelahkan. Tapi, saya benar-benar tidak menyangka mampu berjalan sejauh itu. Pelatih bilang kalau perjalanan itu berjarak 11 km. Saya sempat pandangi kaki saya yang menjadi tumpuan ketika berjalan lalu melihat ke dalam diri saya, kamu mampu ternyata. Jujur, saya pesimis dari awal, saya belum pernah berjalan jauh seperti itu meski pelatih bilang “Sebenarnya tuh kalian udah jalan lebih dari ini, coba aja total dari pertama kali bisa jalan.” LOL. Ya, seperti itulah guyonan garing yang mengisi perjalanan.
Selanjutnya, hari kelima kami mengikuti gladi upacara penutupan, gladi ini sampai lima kali lho saking harus sempurnanya upacara. Setiap kompi dibagi dua kelompok untuk parade yang nantinya akan mengikuti upacara penutupan dan defile yang merupakan demonstrasi menyelaraskan langkah berkelompok dan mereka tidak mengikuti upacara penutupan.
Lantas ketika hari terakhir itu tiba semua bersiap di tempatnya. Saya yang menjadi bagian dari parade tetap berada di lapangan. Upacara kali ini dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. H. Budi Rahmat, Ir.,M.S. Maka dari itu pendidikan bela Negara resmi ditutup.
Sebelum berakhir, ada penyematan peserta terbaik PBN angkatan ke-33 kemudian dilanjut dengan demonstrasi senam komando dan senam gemufamire. Jadi peserta parade membuka barisan dan memenuhi lapangan utama untuk melaksanakan senam. Demonstrasi kedua yaitu dari peleton khusus anggotanya merupakan mahasiswa yang sebelumnya sudah pernah mengikuti paskibra maupun pramuka yang dilatih PBB-AB kembali.
Demonstrasi terakhir yaitu BDM (Bela Diri Militer) yang dilakukan oleh mahasiswa yang memiliki dasar bela diri. Barulah pasukan defile bergabung ke lapangan.
Rangkaian kegiatan PBN berakhir dengan swafoto dengan pleton dan pelatih masing-masing. Sudah banyak pelajaran yang didapatkan terutama tentang kedisiplinan dari para pelatih.
Saya melihat mereka begitu baik juga ramah, tidak garang karena mereka menganggap kami teman, bukan musuh yang mungkin sebelumnya sudah pernah mereka hadapi. Mereka seperti Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik berarti sesuai dengan situasi kondisi dan benar berarti sesuai dengan aturan. Ketika sedang melatih kami, mereka memperlakukan kami selayaknya mahasiswa bukan calon militer. Kami dididik keras tapi sesuai batasan, ketika melakukan kesalahan tak jarang mendapat hukuman tiarap, push up, lari jongkok yang semua itu serta merta untuk kebaikan.
Kegiatan ini akan selalu diingat dan tulisan ini merupakan peremajaan untuk ingatan yang mungkin menua nantinya. Tentang bagaimana panas-panasan di lapangan, saling sahut-sahutan yel-yel, teriak-teriak, sarapan di lapang dan semuanya itu semoga terangkum dengan baik disini.
Kegiatan ini akan selalu diingat dan tulisan ini merupakan peremajaan untuk ingatan yang mungkin menua nantinya. Tentang bagaimana panas-panasan di lapangan, saling sahut-sahutan yel-yel, teriak-teriak, sarapan di lapang dan semuanya itu semoga terangkum dengan baik disini.
Pun senang rasanya bisa mengenal para pelatih dari TNI dan Polri semoga setelah ini kami menjadi lebih baik lagi dan mampu membela Negara sesuai dengan bidangnya masing-masing.
See you soon!!








Tidak ada komentar:
Posting Komentar