Jumat, 16 Desember 2016

[Cerpen] Kala Cahaya Menyapa Mata

Aku selalu membenci sorotan cahaya. Itu sangat menganggu. Contohnya saja, silau matahari pagi yang dengan lantangnya menerobos melalui jendela, membuat mimpi indahku terbang entah kemana. Silau matahari pagi kembali mengingatkanku akan kenyataan yang harus kujalani, yang sebenarnya tak ingin kulalui. Aku juga bosan akan hariku yang monoton, seolah tak punya pilihan tuk lalui jalan lain dipersimpangan. Dikekang aturan dan dikejar deadline.

Aku sendirian. Sorot cahaya telah membutakan dan mengambil temanku satu-satunya. Dia Mia, teman satu jurusan namun berbeda kelas di SMK. Dia seorang dancer, dia juga selalu mengikuti banyak perlombaan. Hingga kemudian ia membawa piala kemenangan untuk sekolah, ia mendapat banyak perhatian, tatapan kagum dan dikelilingi banyak orang, ia menjadi bagian dari siswa-siswi populer di sekolah. Tentu saja sejak saat itu aku dilupakan. Sorot cahaya merenggut lagi kebahagiaanku.

Tapi kemudian kamu datang dengan dua gelas kopi panas di masing-masing tangan kala langit berwarna jingga. Aku tau kamu, begitupun sebaliknya. Kita satu kelas tapi kita tidak begitu dekat. Hanya sesekali berbicara pada saat kita satu kelompok. Aku tak tau apa yang membawamu untuk menghampiriku, tapi aku bersyukur karena aku tak lagi sendirian. Berawal dari persamaan nasib ditinggal teman, kamu berbagi banyak hal kepadaku. Kamu beri aku pengertian tentang ikhlas, sabar dan memaafkan. Juga beri aku beberapa cara menerima kenyataan. Dengan rutukan atau dengan lapang dada. Kita menjadi lebih dekat baik di sekolah atau di luar sekolah.

Sampai suatu saat, kamu menyatakan perasaan. Jujur, aku terkejut. Jantungku berdebar dengan sangat cepat dan keras, hingga kukira mungkin kau mendengar dentuman kerasnya. Dan jujur aku juga memiliki perasaan yang sama. Maka aku menerimanya. Mana mungkin aku menyia-nyiakan seseorang yang dengan ikhlasnya memberi waktu dan kebahagiaan untukku.

Denganmu, aku tak lagi bersahabat dengan sepi, tak lagi merasa hampa dan kosong. Namun masih ada saja rongga yang menganga, kehilangan teman adalah mimpi buruk yang tak bisa kubayangkan tapi ironisnya langsung menjadi kenyataan. Tapi, ya sudahlah dia berhak atas apa yang dia inginkan. Toh aku sudah belajar memaafkan dan melupakan tindakan tak mengenakan darinya itu. Dan dari kamu aku belajar mensyukuri hidup yang singkat ini, cara memandang dunia dengan tatapan yang berbeda, Kita jalan bersama, habiskan hari dengan canda tawa. Kau ajak aku melihat keindahan senja dan beri aku kenyamanan. Kau juga mengerti aku, kau jadikan tubuhmu penghalau sorot depan mobil atau motor di malam hari ketika kita berjalan pulang. Kau tak membiarkan sorot lampu itu menyapa mataku yang membencinya. Aku tersenyum akan perlindunganmu, namun tak berapa lama kemudian sesuatu yang keras menghantam tubuh kita.
Sebuah mobil menabrak kau dan aku dari belakang.

Aku terbaring tak berdaya dikasur yang bukan milikku. Sekarang tak ada punggung tegak yang menghalangi sorot lampu yang mengenai wajahku di ruang operasi. Saat ini. Aku masih sedikit sadar, namun terasa berada di ambang-ambang. Serta merta pemikiranku jatuh ke seseorang sementara yang kurasakan hanyalah dingin, suara logam-logam berdenting, kepanikan ada di wajah petugas-petugas medis. Selang-selang menjalar di tubuh. Aku tak tahu bagaimana aku sekarang, pucatkah? Atau bahkan merona. Merona karena memikirkan kamu yang sedang mendominasi pikiranku yang bercampur aduk, seakan segalanya berputar sangat cepat.

Tiba-tiba aku teramat merindukanmu. Rengkuhan kedua tangan kokohmu, aroma khas badanmu, bibir lembut penuhmu, tatapan matamu yang menenangkan, tawamu, serta wajahmu yang tertangkup di kedua tanganku. Lembut, damai, dan nyaman. Namun aku tak tau berapa lama lagi aku bisa bersamamu, aku tak yakin jika kondisiku seperti ini. Tapi perlu kau tau aku ingin selamanya berada disisimu. Tapi apa daya, manusia hanya bisa berencana bukan? Tuhan yang punya kuasa tuk menentukan. Aku berpikir ini adalah waktu bagi aku, untuk pulang. Dulu aku selalu ingin pulang bahkan jika tak dijemput juga aku ingin pulang sendiri, loncat dari rooftop yang tinggi. Namun itu dulu saat hidupku hanya seputar hitam dan putih,  sebelum kau hadir dengan warna yang membuat hariku menjadi cerah. Membuatku enggan pergi dari tempat ternyaman bersamamu. Aku masih bisa merasakan, apa-apa yang berjalan di sini, sebelum gelap, sebelum hampa. Dan sebelum, kebingungan. Kemudian sentakan keras kembali menarik segala yang ada dalam raga. Meskipun aku harus pulang dan perjuanganku untuk tetap tinggal hanya sampai disini, kuharap kau masih bisa bertahan.



"Diikutsertakan dalam The Infernal Devices: Clockwork Princess Giveaway"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar