Semburat jingga mewarnai langit yang kukira hanya memiliki satu warna. Burung-burung terbang beriringan menuju sarangnya, bersamaan dengan kamu yang pergi tuk selama-lamanya.
Senja kali ini begitu sendu karena aku teramat merindukanmu, senja kali ini tak sehangat dulu ketika kamu berada di sisiku, senja kali ini tak seceria dulu ketika kamu membuat lelucon. Senja kali ini terasa begitu asing.
Kukira kamu berjanji layaknya matahari, pergi menerangi bagian bumi yang lain kemudian kembali esok pagi. Namun ribuan purnama kulalui, kamu tak juga kembali. Tak akan kembali.
"Aku cuma pergi ke Garut, gak akan lama. Aku pasti pulang"
Katamu kala itu sebelum pergi untuk naik gunung Cikuray di Garut, Jawa Barat. Kamu peluk aku dengan erat dan lama, kemudian kamu telungkupkan kedua tanganmu diwajahku.
"Jaga diri baik-baik ya" Suara bisikanmu terdengar jelas di telingaku.
"Kamu juga" Terakhir, kamu kecup keningku.
Aku merasa ada yang aneh, perasaanku memburuk dan tiba-tiba aku menyuruhmu membatalkan rencana. Namun tentu saja kamu menolaknya di detik pertama setelah aku selesai bicara. Dengan berat hati, aku melepasmu pergi bersama keempat temanmu.
Aku mencoba berpikir positif, kamu tak akan kenapa-napa, kamu akan pulang dengan keadaan baik-baik saja. Toh ini bukan perjalananmu yang pertama. Seharusnya aku terbiasa akan hobimu naik gunung, yang kerapkali membuatku cemas dan khawatir.
Akhirnya aku pulang setelah melihat ke sekeliling bascamp yang sudah sepi. Tapi sepanjang perjalanan, dan begitu sampai dirumah perasaanku masih belum membaik juga. Untuk mengalihkan pikiran negatif, aku pun akhirnya membuka laptop dan melanjutkan tulisanku yang belum selesai. Aku seorang penulis yang baru menerbitkan novel pertama tahun lalu. Aku mempunyai mimpi menciptakan ribuan karya yang menginspirasi. Aku tersenyum kecil mengingat ucapanmu kala itu.
"Gimana mau menciptakan ribuan karya kalo tulisannnya dianggurin gitu"
Kala itu aku sedang malas menulis, sedang ingin bersantai dan menikmati kopi di sore hari. Dan kamu menegurku karena mengacuhkan naskahku.
Aku kembali fokus pada naskah di depanku. Namun sedang asyik-asyiknya menulis, sebuah dering telepon mengalihkan perhatian. Terdapat beberapa deret angka dilayar, tanpa nama. Sedikit ragu, akupun mengangkatnya. Seiring dengan suara yang diikuti isak tangis di ujung telepon, tubuhku melemas, aku membatu dan seolah mati rasa. Tak lama air mata mengalir dipipi. Aku menangis tanpa suara.
Berberapa menit, hingga aku kembali tersadar dan dengan segera menyambar tas yang berada dalam jangkauan.Kemudian pergi naik taksi. Berkali-kali aku menghapus air mata namun tetap saja mengalir tanpa henti.
Si penelepon yang diketahui sebagai adik mu, Kiara memberitahuku bahwa kamu, pacarku dan kakak satu-satunya Kiara, telah direnggut jalanan karena sebuah kecelakaan mobil yang kehilangan kendali. Menabrak pengendara lain yang mengakibatkan semua penumpang dimobilmu itu tewas seketika.
Kamu, yang tiga tahun terakhir ini menemaniku, yang tiga jam lalu memelukku, bagaimana mungkin bisa pergi secepat itu?
Apa aku harus percaya? Apa ini sebuah kebenaran? Kalau bisa aku ingin menyangkalnya.
Tarik napas.. Buang.. Aku sudah sampai di depan rumah dengan bendera kuning didepannya. Baru sampai halaman depan, seseorang menghambur ke pelukanku.
"Kak Jihaan.." Dia Kiara, atau juga sering dipanggil Kia. Gadis berumur 14 tahun dengan rambut lurus panjang berponi yang baru saja berbicara denganku ditelepon. Dia menangis dipelukanku.
"Kia sayang.. Yang sabar ya, Kak Rayhan udah bahagia disana." ucapku menenangkan seraya mengusap rambutnya.
"Dia juga pasti gak pengen liat Kia sedih"
"Kak Rayhan... udah janji sama aku... mau bangun pagi, terus... nganterin aku ke sekolah" katanya tersendat-sendat karena isak tangis.
"Nanti deh kakak anterin Kia ke sekolah yaa" Aku menangkupkan kedua tanganku di wajah manis Kia.
"Kakak juga boleh ikut, jadi bertiga"
"Kia.." aku kembali menangis "Kak Rayhan..." Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku.
"Aku sayang Kak Rayhan, kak..." Kiara kembali masuk ke pelukanku.
"Kakak juga Kia"
*
Sejak hari itu, dan 4 bulan setelahnya, aku tak punya gairah untuk hidup juga untuk menulis. Tokoh-tokoh fiksi dalam naskahku seakan mati dan aku tak tahu kapan menghidupkannya kembali.
Aku tak mempunyai inspirasi lagi. Aku seringkali duduk berjam-jam di depan laptop namun tak satu katapun kutulis. Bahkan seharian ini aku sama sekali tak menyentuh laptop hitamku.
Hingga suatu ketika aku menemukanmu, berdiri tegak diujung jalan, diam mematung dan aku bisa melihat dengan jelas, kamu tersenyum. Dengan segera aku berlari kesana, menghambur kedalam pelukanmu. Ah betapa aku merindukan wangi tubuhmu, lengan kokohmu ketika memelukku. Tenang, damai dan nyaman, begitu nyaman hingga suara keras jam beker mau tak mau menyeretku kembali kedalam kenyataan. Aku terbangun dengan rutukan, ternyata ini hanya mimpi? Jahat banget ih! Dan yang aku peluk tadi adalah guling? Ish benar-benar menyebalkan. Tapi...tapi aku masih bisa mencium wangi parfummu. Namun hanya sepersekian detik lalu menghilang. Aku tak mencium parfummu lagi.
"Rayhan..." aku memandang langit-langit kamar, aku amat sangat merindukan sosokmu, kamu yang selalu optimis, selalu menjadi penyemangat dan Ah, juga leluconmu yang garing tapi aku tetap tertawa.
Mengingat-ngingat tentangmu, aku hampir saja lupa ada janji dengan adik perempuan manismu.
*
"Kak Jihaan.." Kiara menghambur memelukku
"Halo Kia.." Di depan Kiara, aku tak menampilkan kerapuhanku, di depan gadis ini aku memakai topeng.
Kemarin, Kiara mengajakku bertemu di Cafe sekitaran taman kota. Kami bertemu hanya sesekali, karena Kiara sibuk mempersiapkan UN SMP. Katanya ada yang mau ia bicarakan, maka akupun ke sini.
"Oh iya kak, aku mau ngasih ini.." Kiara merogoh tasnya kemudian menyodorkan sebuah amplop putih kehadapanku Dengan kening berkerut, aku menerimanya.
"Aku nemuin itu dilaci kamar Kak Rayhan,"
Dengan penasaran, aku membuka amplop tersebut. Aku menggigit bibir bawahku begitu melihat apa isinya. Beberapa lembar fotoku bersama kamu juga sebagian hanya menampilkan aku. Di balik setiap foto, terdapat tulisan dan tanggal yang sepertinya tanggal pengambilan gambar tersebut.
Di balik sebuah foto yang memperlihatkan wajahku yang sedang tertawa, terdapat sebuah tulisan:
Pada senyummu yang manis itu,aku bersyukur melihatnya lagi hari itu. Jangan ngambek lagi yaa Jihan sayang..
08 Februari 2015
Kemudian dibalik sebuah foto yang menampakkan aku yang sedang bersandar dibahumu dengan senyuman yang mengarah pada kamera, terdapat tulisan:
Aku ingin kamu tahu bahwa aku akan selalu berusaha berada disisimu. Aku tak akan membiarkan kamu mencari sandaran yang lain.
17 Januari 2016
Disetiap aku membalik lembaran foto, aku selalu tersenyum. Ada sebagian rindu yang terobati. Namun itu dia, hanya sebagian karena sekarang hatiku sudah kosong dan hampa. Fakta bahwa kamu tak akan kembali membuat lembaran foto ini tak bisa mengobati seluruh rindu yang ada.
Tanpa sadar, air mataku menetes.
"Kak Jihan..." Kiara menggenggam tanganku, membuat kehangatan menjalar keseluruh tubuhku. Aku mendongak.
"Satu bintang mati, bukan berarti bintang yang lain ikut redup dan berhenti menjalankan tugasnya menerangi bumi"
Aku bisa melihat ketabahan dan kesabaran dimata Kiara, suaranya juga terdengar begitu kuat, menampilkan sang empunya yang tabah.
"Mama sama Papa selalu bilang, kita harus kuat, harus ikhlas. Karena tiap-tiap yang hidup pasti akan mati dan kembali ke pelukan sang illahi. Kak Jihan harus ikhlas. Kak Jihan yang bilang ke aku kalo Kak Rayhan udah bahagia disana"
Aku kembali menangis, untuk kesekian kalinya. Awalnya aku menganggap tak akan ada air mata lagi karena sudah habis tak bersisa. Namun ternyata tidak. Aku langsung memeluk Kiara, aku begitu menyayanginya dan sudah menganggapnya sebagai adik sendiri. Tanpa aku sadari, kami sudah menyedot perhatian banyak orang, sampai Kiara berkata.
"Udah ah kak, malu tau" aku tau dia bergurau, maka aku tertawa.
Aku pun melerai pelukan kami dan ku ambil tissue lalu menghapus jejak air mata. ketika aku melihat wajah Kiara, tak ada air mata dan tak ada kesedihan. Dia begitu tegar.
Kulihat Kiara tampak sedang mencari-cari sesuatu di handphone-nya. Aku penasaran, maka akupun bertanya.
"Kiara? Kenapa sih?"
"Liat deh kak.." Kiara menyodorkan handphonenya hingga berada tepat dihadapanku "Buku-buku yang terbit bulan ini, dan aku gak ngeliat nama kakak sebagai penulisnya disini."
Aku tersenyum simpul "Ya memang naskahku belum jadi"
"Harusnya udah jadi kalo kakak nulis tiap hari, paling enggak sekarang tuh udah ada di tangan editor." Ia menghentakkan bahunya kebawah sambil cemberut.
"Lagi males ah" Jawabku sedikit bergurau, aku gemas melihat bibir cemberut milik Kiara.
"Kak Jihan niih, gimana mau menciptakan ribuan karya kalo naskahnya dianggurin mulu" Deg! Persis seperti apa yang kamu katakan dulu. Aku sempat goyah namun beruntung aku bisa mengontrolnya.
"Ish, mulutmu itu. Enak banget ya kalo ngomong"
Kiara malah nyengir dan tangannya membentuk huruf V "Abis, aku kangen tulisan kakak "
"Iya?"
Dia mengangguk semangat. Dan obrolan pun berlanjut dengan satu pertanyaan yang bercokol dikepalaku. Darimana Kiara tau aku masih tak bisa melepasmu pergi dan berharap kamu kan kembali? Ah ini Kiara yang cerdas atau aku yang terlalu bodoh menyembunyikan perasaan?
*
Atas dorongan Kiara dan motivasi dalam diri, aku mencoba untuk menulis kembali, kembali menghidupkan tokoh-tokoh yang sempat mati suri dan kembali melanjutkan impian menciptakan ribuan karya yang menginspirasi.
Satu kalimat, dua kalimat, tiga kalimat kemudian membentuk satu paragraf. aku berhenti sejenak, mengambil napas lalu menghembuskannya perlahan.
Aku membaca satu paragraf yang baru saja ku tulis itu dan yang kurasakan adalah aneh, menjadi sedikit asing. Aku menggigit bibir, beberapa pikiran buruk menghampiriku. Bagaimana jika aku tak bisa lagi menulis dan mewujudkan mimpi? Apakah aku berhenti sampai di sini?
Aku khawatir dan mulai kacau,hingga kemudian sebuah ide muncul dikepalaku. Bagaimana jika aku membaca kembali tulisanku yang lalu? Ah ya, boleh dicoba.
Maka aku pun langsung membaca karyaku yang lalu. Mencari-cari diriku dari sana. Terus membaca, membaca dan membaca hingga aku menemukan diriku kembali.
Namun ketika aku mulai kembali menulis, rasanya masih sulit. Sekarang yang menjadi kendalanya adalah sebuah cerita yang menggantung didepanku. Aku bersandar dan menghembuskan napas berat, bisa-bisa aku stres terus berada di dituasi seperti ini, atau mungkin memang aku sedang berada disituasi seperti itu. Aah sudahlah.
Tiba-tiba mataku menangkap sebuah buku catatan berwarna hitam di tumpukan buku samping laptop. Dengan kening berkerut, aku berusaha mengingat-ngingat buku apa itu. Dan begitu aku melihat sampul polosnya, aku ingat ini adalah buku catatan yang berisi outline untuk beberapa ceritaku.
Tapi ketika tanganku sudah siap menulis sesuai outline, sesuatu hal mengusik kepalaku. Kenapa aku tak menuliskan tentang Rayhan saja, dengan begitu dia akan hidup selamanya.
Sambil menutup file naskah yang masih gantung itu, aku berkata. "Maaf ya naskah, aku php-in kamu. Kali ini aja"
Dengan senyuman aku memulai langkah dari awal, dimulai dari menulis outline, rencana pembuka yang seperti apa, konflik-konflik nyata yang dialami, tentang kecemasanku mengenai hobimu naik gunung, kecemburuanmu pada tokoh-tokoh fiksi yang digilai olehku. Lucu memang, kau cemburu pada seorang tokoh fiksi. Tapi itulah kamu.
Aku juga menuliskan tentang kecelakaan yang kamu alami namun dengan ending yang berbeda. Ditulisanku nanti, kamu hanya akan dirawat di rumah sakit tanpa luka yang berarti, dengan begitu kamu bisa menepati janji pada Kia juga padaku. Setelah naik gunung Cikuray itu, kamu pulang dalam artian pulang ke rumahmu dan bertemu denganku esok hari. Tidak pulang seperti yang kamu alami kemarin, pulang pada sang maha pencipta.
Aku tak ingin menuliskan ending yang serupa seperti yang dialami kemarin karena aku terlalu sayang pada tokoh-tokohku. Tak ada yang melegakan selain melihat mereka bahagia.
Untuk tulisan yang ini, aku tak peduli akan dibukukan atau tidak, karena ini adalah caraku mengobati rindu kepada kamu yang aku cintai dan yang terpenting bagiku adalah aku kembali menemukan gairah dalam menulis. Aku masih sanggup menciptakan ribuan karya dan biarlah itu saja yang dibukukan.
Toh yang kucintai adalah proses dalam menciptakan sebuah karya, maka dari itu aku berani jatuh berkali-kali untuk apa yang aku cintai.
*
Kiara benar, satu bintang mati bukan berarti bintang yang lain ikut redup dan berhenti menjalankan tugas menyinari bumi. Aku kembali diingatkan akan mimpiku menginspirasi banyak orang, aku pun sadar tak seharusnya kesedihan dibiarkan berlarut-larut. Hidup masih terus berjalan, karena semesta tak akan ikut menangisi kesedihanku. Jika saja aku masih membatu, aku pasti akan terseok-seok mengikuti arus derasnya kehidupan dan pada akhirnya aku hanya akan menjadi seonggok daging yang punya nama.
Yang seharusnya dilakukan adalah ikhlas, seperti apa yang Kiara bilang. Bagaimanapun ingin, bagaimanapun berusaha, dia yang telah berpulang tak akan pernah kembali ke bumi.
Yang seharusnya dilakukan adalah kembali menata kehidupan tanpanya, kembali mengejar mimpi seperti yang selalu aku bilang kepadanya, yaitu menciptakan ribuan karya yang menginspirasi, berbagi lewat kata yang mempunyai makna.
Senja kali ini terasa berbeda, jingganya memberiku kehangatan. Senja kali ini aku merasa lebih ringan karena aku sudah ikhlas melepaskan. Senja kali ini aku tersenyum karena kutahu kamu bahagia disana.
“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendi.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar